Cascais-Atlantico

Bersama Membangun Komunitas Pesisir yang Tangguh

Cascais-Atlantico

Bersama Membangun Komunitas Pesisir yang Tangguh

Mystery

Pesan Terakhir dari Nomor Tak Dikenal Kisah Misteri yang Mengubah Malam Jadi Mimpi Buruk

Malam itu cuma harusnya malam biasa. Aku sendirian di kamar, nonton video random sambil scroll timeline. Tapi semuanya berubah saat notifikasi masuk di layar ponselku.
Nomor tak dikenal. Tanpa nama. Tanpa foto.
Pesannya cuma satu:
“Kamu sendirian di kamar, kan?”

Aku langsung berhenti napas. Gimana dia tahu? Aku lihat sekeliling, jendela tertutup, pintu terkunci. Tapi rasa dingin tiba-tiba merayap di tengkukku. Aku nggak jawab pesan itu. Tapi beberapa detik kemudian, masuk lagi pesan berikutnya:
“Jangan menoleh ke belakang.”


Awal Dari Gangguan Itu

Semua orang pasti pernah dapat pesan dari nomor tak dikenal. Tapi kali ini beda. Aku yakin bukan prank. Soalnya waktu aku lihat jam, ponselku tiba-tiba freeze. Lampu kamar meredup sendiri, dan notifikasi baru muncul tanpa suara.
“Aku sudah di sini.”

Aku panik. Aku langsung matiin HP, tapi anehnya, layarnya tetap nyala. Bahkan dalam layar yang gelap, aku lihat pantulan wajah seseorang di belakangku. Aku refleks noleh cepat—tapi kosong. Nggak ada siapa-siapa.

Kupikir itu cuma ilusi. Tapi besok paginya, aku lihat lagi ponselku, dan pesan itu masih di sana, dikirim jam 02.44 pagi.


Nomor Tanpa Jejak

Aku coba cari nomor itu di internet, di aplikasi pelacak, bahkan nanya teman yang kerja di provider. Tapi hasilnya nihil. Nomornya nggak terdaftar di mana pun.
Satu-satunya informasi yang kuterima adalah, nomor itu pernah aktif bertahun-tahun lalu… milik seseorang bernama “Dara.”

Masalahnya, aku kenal nama itu.
Dara, teman SMA-ku yang meninggal lima tahun lalu dalam kecelakaan malam hari. Dan yang lebih ngeri—waktu aku buka galeri ponselku, ada foto baru yang nggak pernah aku ambil. Foto kamarku, diambil dari sudut dekat lemari.


Suara Dalam Panggilan

Malam berikutnya, ponselku berdering. Nomor yang sama.
Aku ragu, tapi entah kenapa, jariku otomatis menekan “jawab.”
Di seberang sana, cuma ada suara napas. Berat, lambat, seperti seseorang yang berusaha bicara tapi tercekik.
Aku hampir matiin panggilan itu, sampai kudengar satu kalimat:
“Kenapa kamu tinggalin aku waktu itu?”

Aku ngerasa darahku berhenti. Suara itu… suara Dara.
Tapi itu nggak mungkin. Aku sendiri yang hadir di pemakamannya. Aku lihat jasadnya waktu itu.


Flashback Malam Kecelakaan

Kejadian malam itu kembali ke kepalaku. Aku dan Dara pulang naik motor, hujan deras. Dia minta aku pelan-pelan, tapi aku ngebut karena takut pulang terlambat. Mobil dari arah berlawanan tiba-tiba muncul. Kami jatuh. Aku cuma lecet. Tapi Dara… nggak bangun lagi.

Sejak malam itu aku selalu dihantui rasa bersalah. Tapi aku nggak pernah nyangka kalau dia akan “menemukan cara” untuk kembali.


Pesan dari Dunia Lain

Malam ketiga, pesan dari nomor tak dikenal itu makin sering masuk. Kadang isinya cuma simbol-simbol aneh, kadang kalimat yang bikin bulu kuduk merinding.
“Aku kedinginan di sini.”
“Aku lihat kamu nggak pernah ke kuburanku.”
“Kamu masih ingat wajahku?”

Dan satu pesan terakhir malam itu:
“Aku mau kamu di sini bersamaku.”

HP-ku panas, layar bergetar tanpa henti. Gambar Dara muncul di layar, tapi bukan seperti dulu. Matanya gelap, darah menetes dari bibirnya, dan dia… tersenyum.


Teman yang Hilang Tapi Tak Pergi

Aku cerita ke sahabatku, Rian. Dia pikir aku cuma halu, sampai dia sendiri terima pesan yang sama malamnya.
Pesannya kali ini dari nomor yang sama, tapi isinya berbeda:
“Kenapa kamu biarin dia nyetir?”

Rian langsung nelpon aku jam 3 pagi, suaranya panik. Katanya dia lihat notifikasi muncul di layar TV rumahnya padahal HP-nya lagi mati.
Dan di layar itu, muncul nama Dara.


Investigasi Nomor Itu

Karena udah nggak tahan, aku ke kantor provider lagi. Tapi pegawainya malah makin bikin aku takut.
Dia bilang, “Nomor ini udah nggak aktif sejak 2019… tapi kami masih lihat data pengiriman pesan masuk dari sistem. Cuma… nggak dari jaringan biasa.”

Mereka nggak bisa jelaskan. Katanya itu kayak sinyal “ping” dari sumber yang nggak diketahui. Aku keluar dari sana dengan kepala kosong.

Malam itu aku dapat pesan baru lagi. Kali ini ada foto lama—aku dan Dara di SMA. Tapi di foto itu, wajahku dicoret dengan tinta merah, dan di bawahnya tertulis:
“Sekarang gantian kamu.”


Kejadian di Cermin

Sekitar jam dua lewat empat puluh, aku dengar suara dering dari kamar mandi. Padahal HP-ku lagi di meja. Suaranya jelas banget, kayak dari belakang pintu.
Aku buka perlahan. Lampu mati.
Di cermin, aku lihat HP terpantul di wastafel, padahal nggak ada di sana. Dan di layar pantulannya, pesan baru muncul:
“Aku di belakangmu.”

Aku noleh pelan, dan untuk sepersekian detik, aku lihat wajah Dara—pucat, basah, dengan darah menetes dari pelipisnya—sebelum semuanya gelap.


Hari Setelah Itu

Aku bangun di rumah sakit. Rian duduk di sebelahku, wajahnya pucat. Dia bilang, dia nemuin aku pingsan di kamar mandi dengan HP pecah di tangan. Tapi bagian paling aneh: HP-ku terus mengirim pesan ke dirinya sendiri.
Isi pesannya:
“Dia sudah bersamaku sekarang.”

Aku minta lihat HP itu. Layarnya rusak parah, tapi di latar belakang masih terlihat bayangan wajah Dara, menatap dari balik retakan kaca.


Fenomena Digital Spirit

Kasus seperti ini nggak sepenuhnya baru. Ada istilah “digital haunting”—fenomena di mana arwah menggunakan perangkat elektronik untuk berkomunikasi.
Para ahli spiritual percaya, karena arwah terdiri dari energi, mereka bisa mengganggu gelombang elektromagnetik, termasuk sinyal ponsel.
Sementara ilmuwan skeptis bilang, ini efek psikologis dari rasa bersalah atau trauma yang terproyeksi lewat persepsi digital. Tapi tetap aja, terlalu banyak kasus serupa untuk dibilang kebetulan.


Pesan Terakhir

Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit, aku ganti nomor. Ganti HP. Bahkan pindah kota. Tapi suatu malam, jam yang sama, aku dengar notifikasi masuk. Nomor itu muncul lagi.
Pesannya cuma satu kalimat:
“Nomor lama, rasa yang sama.”

Aku buang HP itu ke sungai. Tapi anehnya, malam berikutnya, deringnya masih kudengar dari bawah bantal.


Makna Simbolis dari Kisah Ini

Pesan terakhir dari nomor tak dikenal” bukan cuma cerita horror digital, tapi juga refleksi tentang rasa bersalah yang nggak pernah hilang. Kadang, masa lalu menemukan cara untuk menghubungimu, bahkan lewat sinyal yang tak terlihat.

Pesan itu bisa berarti literal, atau metaforis—bahwa seseorang yang pernah kita sakiti tetap “mengirim pesan” dalam bentuk penyesalan dan mimpi buruk yang nggak bisa dihapus.


Tanda Kamu Dihubungi dari Dunia Lain

Kalau kamu ngerasa pernah ngalamin hal serupa, hati-hati sama tanda-tanda ini:

  • Pesan muncul dari nomor tak dikenal dengan isi yang relevan banget sama hidupmu.
  • Ponsel tiba-tiba nyala atau bunyi sendiri padahal mati.
  • Foto baru muncul tanpa kamu ambil.
  • Suara panggilan terdengar tapi tidak ada suara manusia.
  • Ada pola waktu yang sama tiap kejadian (biasanya antara jam 2-4 pagi).

Kalau semua itu terjadi, lebih baik jangan balas pesan itu. Karena dalam kepercayaan lama, begitu kamu membalas, kamu membuka “saluran dua arah.” Dan yang dari sana bisa masuk.


FAQ: Pesan dari Nomor Tak Dikenal

1. Apakah arwah bisa mengirim pesan digital?
Menurut spiritualisme modern, arwah bisa memanfaatkan energi listrik untuk berinteraksi lewat perangkat elektronik.

2. Apakah ini hanya halusinasi?
Bisa jadi efek trauma, tapi banyak kasus terjadi bersamaan di beberapa orang yang berbeda lokasi.

3. Apakah pesan seperti ini bisa dihentikan?
Beberapa orang berhasil menghentikannya dengan doa dan memutus semua perangkat yang terkait.

4. Kenapa waktu kejadian sering antara jam 2–4 pagi?
Itu disebut “jam roh,” saat batas antara dunia manusia dan spiritual paling tipis.

5. Apakah mengganti nomor bisa menyelesaikan masalah?
Tidak selalu. Karena kalau energinya terikat padamu, bukan pada nomornya.

6. Bagaimana cara tahu apakah pesan itu dari roh jahat?
Kalau pesan itu mengandung ancaman, manipulasi, atau memancing rasa bersalah berlebihan—hampir pasti bukan dari energi baik.


Kesimpulan

Pesan terakhir dari nomor tak dikenal bukan cuma tentang teror digital, tapi juga tentang penyesalan yang hidup lebih lama dari manusia.
Kadang, yang menunggu di seberang sinyal bukan orang asing, tapi seseorang yang dulu kamu kenal—dan belum siap pergi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *